blog*spot
get rid of this ad | advertise here
reportase indicomic.com

Tuesday, September 14, 2004

Pameran Komik Mal Ciputra

Pameran komik di mall? Kenapa enggak? Itu yang tejadi di Mal Ciputra pada tanggal 25 Agustus sampai dengan 12 September 2004. Berlokasi di lantai 4 mal tesebut, arena pameran sedikit tersamar karena menyatu dengan tempat-tempat jualan yang ada di sekitarnya. Komik atau ilustrasi yang dipajang pun tak terlalu banyak diikuti oleh komikus atau studio komik. Mungkin karena - seperti acara pameran komik lainnya - kurangnya publikasi dan promosi. Selain itu, menurut Beng Rahardian yang menjadi salah satu orang panitia, persiapan pameran terlalu mepet sehingga tak banyak waktu untuk mempersiapkannya.

Terlepas dari kekurangan yang ada, acara pameran seperti ini adalah hal yang sangat bagus untuk mendekatkan komik Indonesia khususnya, dengan masyarakat awam yang selama ini tak terlalu mengetahui mengenai perkembangan komik lokal.

Selain pameran komik dan ilustrasi, banyak acara diskusi dan workshop yang diadakan sepajang acara pameran tersebut. Seperti acara workshop Bengkel Komik besama MKI, diskusi perjalanan komik Indonesia bersama Dwi Koen dan Ratna Sari, diskusi Fenomena Komik Underground bersama Firmansyah Rachim dan Hikmat Dharmawan, diskusi Komik, Animasi dan Dunia Advertising bersama Castle Production dan Tony Masdiono, workshop membuat komik bersama Machiko Sensei, serta presentasi proses pembuatan film animasi layar lebar Homeland oleh Visi Anak Bangsa. Di luar acara yang telah terjadwal tesebut, juga ada acara tambahan sebagai pengisi waktu yang kosong, seperti misalnya diskusi bertema Produksi dan Distribusi komik di bawah 500 exemplar. Sebagai pembicara sehausnya ada Eko Nugroho dari Daging Tumbuh, Noldie dari Sekte Komik dan Fitra dari indiCOMIC Hand Book, tapi Eko dan Noldie tak bisa hadir, sehingga yang menjadi pembicara adalah Fitra dan Alfi dari Dua Warna.
Diharapkan, acara pameran komik di mal semacam ini bisa diikuti oleh Mal lainnya, dengan persiapan yang lebih maang tentunya. [Fitra]

Rizal Manthovani, Dua Warna, dan Awal Pergerakan Komik Indonesia

reportase dari acara dialog komik di Kinokuniya

Tau toko buku Kinokuniya yang di Plaza Senayan, kan? Ada yang menyebutnya sebagai surga bagi pecinta buku dan komik impor, yang punya uang tentunya. Toko buku tersebut mengadakan acara diskusi tentang komik pada hari Jumat, 27 Agustus 2004, pukul 18.30. Hadir sebagai pembicara Uwi Mathovani & Rizal Manthovani yang datang belakangan. Sedangkan Hikmat Dharmawan yang dikenal sebagai pengamat komik bertindak sebagai moderator.

Pada kesempatan tersebut, tema yang diangkat adalah mengenai superhero dalam dunia komik. Rizal yang dikenal sebagai penggemar berat Superman, banyak bercerita tentang kegemarannya tersebut dan memamerkan koleksi-koleksi komik Supermannya. Ia bahkan memperlihatkan sebuah komik luar yang terjemahannya dikerjakan olehnya.

Acara dialog komik semacam ini direncanakan untuk diadakan secara reguler, sebagai agenda rutin dari toko buku terseut. Hal ini tentu sangat menggembirakan karena dengan semakin banyak acara tentang komik, akan menumbuhkan gairah bagi berkembangnya komik Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Alfi Zachkyelle yang hadir pada acara tersebut mengungkapkan fakta tentang komik Dua Warna-nya. “Edisi 5 sedang naik cetak” ia menjelaskan progres komik karyanya itu, “dan sekarang sedang mengexplore edisi 6. Setelah itu dicut.”
Dicut? Ya, disudahi! Dieliminasi, istilah yang sedang in sekarang.

“Gue gak tau alasan jelasnya,”Alfi menjelaskan, “mungkin karena penjualannya, karena gue sendiri gak pernah dikasih tahu laporan hasil penjualannya.” Lah, terus bagaimana komitmen berkoloni menerbitkan 10 episode komik Dua Warna dan komik Alakazam yang peluncuran episode pertamanya disaksikan oleh Nurul Arifin tahun lalu, padahal saat itu Nurul Arifin ditemani oleh kedua anaknya (apa sehhh?). “Ya, mau gimana lagi? Gue sih siap aja ngerjain berapa episode pun, tapi kalau dari merekanya (M&C Gramedia, red) gak bisa?” Alfi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, yang tentu saja gak bisa saya jawab.
Ketika dikonfirmasikan kepada Uwi Mathovani sebagai orang yang sangat berperan pada proyek Koloni M&C tersebut, ia mengakui tentang penghentian produksi Dua Warna dan Alakazam setelah episode ke 6.

“Melihat sale-nya gak terlalu itu (menguntungkan? red), policy bisnis M&C saat itu memutuskan untuk tidak melajutkan komik Dua Warna dan Alakazam”.
Jadi ternyata saat memulai proyek koloni hanya berdasarkan bisnis, tanpa idealsimenya? “Koloni dibikin agar N&C nerbitin komik Indonesia. Maka dibuat label khusus di bawah M&C. Walau kita ingin konsisten, tapi ada faktor bisnis yang haus dipertimbangkan.”

Dengan pengalaman 7 tahun di M&C, Uwi yang sekarang tidak lagi bekerja di M&C menilai bahwa kondisi untukUwi Mathovani menerbitkan komik di Indonesia belum terlalu siap, baik dari sisi penerbit, komikus maupun pembaca.
Apabila di M&C Gramedia yang terjadi adalah akhir dari sebuah cerita, di sebuah perusahaan penerbitan bernama Terrant Books justru tengah terjalin sebuah cerita. Perusahaan penerbitan tersebut sekarang membuat divisi baru dengan label Terrant Comics khusus untuk menerbitkan komik.
“Pertama, karena saya suka baca komik, terutama yang tak biasa. Seperti komik eropa,” Aziz dari Terrant Comics menjelaskan tentang gebrakkannya menerbitkan tiga judul komik indie, Selamat Pagi Urbaz, 1001 Jagoan dan Mantra Pawitra. “Saya pikir kalau kita bisa membudayakan lagi komik-komik Indonesia kaya dulu, bisa aja kita merubah pola pikir pembaca komik sekarang untuk cinta lagi komik dalam negeri”.

Untuk sebuah penerbit buku yang bisa dibilang baru, langkah Terrant Books bisa dibilang berani dan harus didukung karena tak hanya semata-mata beralasan bisnis, melainkan didorong idealisme untuk memajukan komik Indonesia. Aziz pun menyadari bahwa profit dari penjualan komik yang diterbitkannya tak akan bisa diperoleh dalam jangka pendek. Banyak yang berpendapat, banyaknya komik indie yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan merupakan sebuah awal dari pergerakan yang akan memajukan komik Indonesia.

Kalau kalian mendapatkan komik-komik yang diterbitkan oleh Terrant Comics, kalian bisa merasakan semangat independensi dari komik-komik tesebut, karena Terrant Comics memberikan ruang yang luas bagi para komikusnya untuk berkreativitas.
Terrant Comics masih membuka kesempatan bagi rekan-rekan komikus yang ingin menawarkan karyanya. Syaratnya standar saja, tema komik tidak sara dan tidak pornografi. Untuk menghubungi Terrant Comics bisa melalui email: terrantbooks@yahoo.com, atau bisa juga melalui alamat Jl. Cimahi No.628 Blok M Cinere Depok, tlp/fax: 754-1329. Selamat mencoba, siapa tahun komik kalian bisa menyusul rekan-rekan yang sudah masuk jalur major. [Fitra]

Tuesday, July 13, 2004

Perang di Grogol, Revolusi di Solo

Reportase dari acara PDKT Usakti Mei 2004

Telah terjadi perang di kampus reformasi alias Uni-versitas Trisakti Jakarta pada tanggal 26-30 Mei 2004. Yang terlibat perang antara lain kelompok yang datang dari Yogya, Solo, Malang Surabaya dan se-kitarnya, yang diwakili oleh Bengkel Qomik, Swa-comsta, Komik Sempit, Badjak Laoet. Serta kelom-pok lainnya dari Jakarta yang diwakili oleh Alfi Zachkyelle, Basis Komik, Komikus Trisakti, dan lainnya.

Iya, yang berperang emang para komikus, entah sia-pa melawan siapa. Acara yang baru pertama kali di-adakan oleh komunitas komik Trisakti itu bisa di-bilang 70% sukses dengan beberapa catatan di sana-sini, di antaranya tentang minimnya publikasi acara tersebut.

Selain acara pameran, ada juga acara dialog komik, workshop serta band bertemakan lagu-lagu yang diambil dari soundtrack film animasi. Juga ada bazaar komik dari panitia, MKI, dan M&C Gramedia.

Satu hal yang menarik adalah adanya stand komik dari Bengkel Qomik yang menampilkan komik paling gress dari mereka, “Street Soccer”. Dari hasil ngobrol dengan beberapa anggota BQ (begitu Bengkel Qomik sering disingkat), komik bertema sepak bola yang dicetak sebanyak 5.000 exemplar bersama de-ngan pernak-perniknya tersebut menyedot biaya produksi tak kurang dari 30 juta rupiah! Angka yang lumayan besar untuk ukuran studio komik inde-pendent. Mereka bahkan menyebutnya sebagai revolusi komik dari Solo. Selain hasil dari patungan para anggotanya, biaya tersebut juga datang dari para donatur dan investor. Hal tersebut setidaknya menunjukkan sebuah manajeman studio komik yang cukup lengkap karena sudah ada bagian yang menangani urusan promosi, penjualan dan humas. Hal yang patut dicontoh bagi studio komik lainnya. Bahkan BQ cukup gencar dalam hal promosi ini, terbukti dengan adanya preview dalam kemasan yang cukup wah dan dibagikan secara gratis, ditambah poster sebagai bonus untuk setiap pembeli komik Street Soccer, dan tak lupa beberapa stiker keren sebagai sisipannya. Tak sampai situ, mereka juga mengeluarkan VCD wawancara de-ngan para kru mengenai proses penggarapan Street Soccer! Dan kalau masih belum cukup juga, tersedia banyak merchandise seperti kaos, pin, note book, gan-tungan kunci, postcard dan lainnya! Wow! Asal tau aja, merchandise tersebut justru lebih cepat ludes terjual pada setiap acara komik yang mereka ikuti.

Bengkel Qomik berdiri sejak tahun 1998 dan memilik anggota 16 orang sampai sekarang. Bermarkas di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo 51, Mangkubumen, Solo 57139. Selain memiliki divisi yang khusus membuat komik, mereka juga memiliki divisi jasa yeng khusus melayani permintaan konsumen untuk membuat karya desain apa saja. Jadi kalau berminat, atau kalau mau sekedar kores-pondensi, bisa kontak melalui email ke:
streetcoccer_info@yahoo.com [fs]

Wednesday, July 07, 2004

Pekan Komik dan Animasi Nasional ke IV - Yogyakarta, 6-12 September 2003

Diawali dengan berangkat menggunakan kereta setan, berangkat jam 8 malem, dan
sampai Yogya sekitar jam 9 pagi. Kenapa kereta setan? Karena berhenti di setiap
stasiunnya lebih lama dari pada perjalanannya itu sendiri. Belakangan baru tau
gw kalo kakus di kereta itu bablas langsung jatoh ke bumi. weh, hebat PJKA.

Hari pertama, Sabtu tanggal 6, pembukaan dimulai jam 6 sore, mundur beberapa
jam gara-gara Pak Mentri yang terhormat terlambat datang. Acara pembukaannya
dimeriahkan dengan penari seksi yang ganjen namun berkelamin jantan. Mereka
berdandan lebih seronok dari wanita. Kacau juga ternyata orang Yogya.
Selain ada pameran komik, ada juga animasinya. Banyak film-film animasi yang
kualitasnya cukup menggembirakan sebagai gerakan awal. Contohnya ya yang dari
Kasat Mata itu. Tapi sayangnya, lokasi pameran berada dekat pasar dengan pintu
masuk yang agak susah keliatan. Beberapa rekan peserta mengatakan pamerannya
sepi pengunjung.

Hari Minggunya, gw kenalan ama Athonk dari Old Skull, ketemu juga ama Rayteda dari
Komikers Studio Semarang, trus rekan-rekan dari Papillon Semarang. Menurut pengamatan
Athonk, peserta PKAN makin bertambah dibanding PKAN pertama yang ia ikuti dulu.
Bahkan menurut sang istri yang kelahiran Amerika, pada PKAN ke IV ini sudah mulai
karakter komik Indonesianya, karena kalau dibanding yang dulu-dulu, komik Indonesia
hampir seluruhnya mirip komik Jepang. Well, bagus lah kalau begitu.
Malamnya, di pelataran parkirnya disediakan pangung untuk unjuk kreasibagi yang suka
main band. Walau gak nonton dari awal, tapi gw bisa ambil kesimpulan bahwa band di
Yogya bagus-bagus. an yang lebih asiknya lagi, MC-nya itu loh, gila abis. Lucu aslinya.

Seninnya baru gw sempet wawancara ama Athonk, Agung Komikaze, Dwi Koen Panji Koming,
Suryo Komik Cinta. Dan berencana untuk mewawancara beberapa orang lainnya. Juga mencatat
diam-diam diskusi yang bertajuk "Curhat Komik". Disini teman-teman komikus asli curhat
tentang permasalahan dan pengalaman mereka tentang mengomik.
Oya, satu hal, akhirnya gw bisa juga pesen domain sendiri untuk situs ini, dengan nama
indicomic.com...

Senin, masih ada pertunjukan musik. Tapi gak diatas panggung, hanya di lobi masuk ke
gedung. Musiknya pun musik keroncong. Nama grupnya "keroncong chaos". nah, dari namanya,
tau sendiri dah gimana penampilannya. Di tambah penari latar (sebetulnya di depan ding)
yang kacau punya. Dua orang cowo dengan dandanan seronok dengan gaya joget yang nyeleneh.

hari selasa, gw wawancara ama Alfi 2 warna dan Eko daging tumbuh. Malemnya gw pulang, dan
gak bisa ikut ampe hari terakhir. Setelah nyampe Jakarta, gw ke Bogor naik kereta jabotabek,
karena cape, gw ketiduran. kantong plastik berisi oleh-oleh makanan, komik indi berikut
merchandisenya, kartu nama, master komik manusia kecoa n Jon Neourotic gw, hasil wawancara,
plus sandal jepit, gw taro di situ, disimpen di atas. Pas gw bangun, plastiknya udah ilang!
Anjir banget gak tuh maling! Kalo malingnya baca tulisan ini, kembaliin komik-komik gw, kalo
nggak, gw sumpahin lu ketangkep massa n dibakar hidup-hidup!
Sori buat Mas Athonk, Eko Daging Tumbuh, Alfi 2 warna, wawancaranya blom bisa gw muat
karena catatannya ilang. Mungkin bisa kita lakukan lagi lewat imel.

Menurut panitia, juga dikatakan oleh Dwi Koen, PKAN berikutnya akan dilaksanakan di
Bandung. Semoga saja pada PKAN ke V tersebut akan lebih baik semua-muanya. Oya, menurut
Beng Rahardian, seorang komikus asal Yogya, ia bersama beberapa rekan lainnya,
diantaranya Athonk Old Skull, mereka juga akan mengadakan pameran komik bertarap
Asia di Indonesia. Ini berita bagus tentunya, karena diharapkan hal tersebut
akan bisa membantu semakin berkembangnya komik di Indonesia. Ok, demikian dulu.
Mengenai penutupannya, mungkin akan ditambahkan kemudian mengambil masukan dari
pihak lain. Dari panitia MKI misalnya.
Sampai jumpa di Bandung, di PKAN V.
Sukses komik Indonesia![*](Fs)

PAMERAN KOMIK KOTA DI PUSAT KEBUDAYAAN PERANCIS

Pameran ini bertempat di Pusat kebudayaan Prancis Salemba Jakarta. Bertema
tentang wajah kota dalam komik. Pamerannya sendiri sebetulnya hanya dalam ruangan
yang tak terlalu luas. Komik yang didisplay pun tak terlalu banyak, terdiri dari
karya orang prancis dan karya lokal. Bahka ada komik yang sengaja dibuat dengan
kanvas dalam ukuran yang besar, lebih dari 1 meter tingginya.

Yang asik, di arena pemeran disediakan komik2 dalam bahasa prancis milik CCF dan
komik lokal milik MKI, dan pengunjung yang datang bisa membaca komik2 tersebut
sambil selonjoran di karpet dan bantal yang empuk, ditemani musik prancis yang
mungkin terasa asing ditelinga kita.Pengunjung yang datang kebanyakan adalah orang yang kursus bahasa Prancis di CCF tersebut.

selain pameran, ada pula workshop, yang acaranya dipandu oleh Agung dari Komikaze.
Agung dan Beng datang dari Yogya untuk menghadiri acara tersebut. Sayang saya gak
bisa ketemu sama Beng, cuma ketemu sama Agung doang.
Seperti biasa, MKI menggelar bazar komik. Koleksinya saya liat agak bertambah,
mungkin hasil perjalanan ke Yogya dan ke Malang sebelumnya, jadi ada komik dari
Yogya dan Solo yang ikut dijual, seperti dari Street Soccer dari Bengkel Komik,
zine haramjadah dari Komikaze, juga ada komik karya Beng Rahardian. Dan tentunya
dijual juga majalah indi indicomic.com ini.
Kalian pada datang gak?

Ok, see u in another comic event.[*](Fs)

PEKAN KOMIK INDONESIA III, MALANG

Pekan Komik Indonesia III, sepertinya bakal menjadi penutup rangkaian acara
perkomikan di tanah air untuk tahun ini. Sepanjang tahun 2003, berturut-turut
diselenggarakan Pekan Komikasia di Bandung, PEKAN4 (Pekan Komik dan Animasi
Nasional) di Jokja, dan PKI-3 di Malang.

Acara yang diprakarsai HMJ Seni dan Desain-UM, pada 6-10 Oktober 2003 di gedung
Sasana Krida Universitas Negeri Malang itu menghadirkan rentetan mata acara
seminar, pameran, performance art, pemutaran dan diskusi karya animasi lokal,
serta dimeriahkan dengan gelaran berbagai lomba. Nyaris tak ada perbedaan format
dan keragaman yang mencolok dalam event yang diikuti 14 studio komik itu dibandingkan
dengan event-event sejenis berskala sama.

Perbedaan yang ada, mungkin jika dibandingkan dengan kegiatan yang berselisih sebulan
darinya, PEKAN4. Acara yang disebut terakhir ini, memang terbilang cukup akbar dan
memanjakan pesertanya. 20 studio komik yang mengikutinya, tak hanya berasal dari
Indonesia. Studio komik dari negeri tetangga seperti Kamboja juga turut berpartisipasi.
Belum lagi jika dibandingkan dengan event pada bulan Maret lalu, Pekan Komikasia,
yang diselenggarakan di ITB.

Dalam hal penampilan dan gaung, jelas PKI-3 berbeda jauh dengan PEKAN4. “Mestinya
itu bukan masalah. Keduanya memang bukan untuk diperbandingkan”, tukas Beng Rahadian.
Staf pengajar ISI yang juga mantan panitia PEKAN4 itu dalam kesempatan itu juga
menjadi partisipan PKI-3. “anggap saja PEKAN kemaren itu keberuntungan kita hingga
bisa dapet dukungan dana dari Diknas”.

Sedianya, event perkomikan itu ingin mengusung tema online comic sebagai bentuk
diversifikasi media komik Indonesia.

“Acaranya gak nyambung dengan temanya. Mungkin tema yang diangkat itu terlalu berat
untuk sekarang”, tukas Nangnang dari studio Badjak Laoet. Studio komik dan animasi
dari Malang itu tercatat mengikuti Pekan Komik Indonesia sejak PKI pertama. “Rasanya
kita belum saatnya tuh ngangkat tema ini. Apalagi kalau komik online mau dijadikan
media baru dalam berkomik”, dukung Iyok dari Bengkel Qomik yang berasal dari Solo,
di kesempatan berlainan.

Selain menuai keluhan dari peserta maupun pengunjung, PKI-3 juga banyak mendapat
pujian karena mampu memunculkan suasana lebih akrab antar semua elemennya. Suasana
macam inilah yang sebenarnya diharapkan dari event-event komunitas indie.

Keputusan Penting
Diam-diam, di luar agenda yang direncanakan panitia PKI-3, terjadi pertemuan insidental
yang punya makna penting. Dalam pertemuan usai penutupan pameran hari ke-2, berkumpul
perwakilan-perwakilan 14 studio komik yang menyertai PKI-3. Di situ mereka berusaha
memformulasikan dan merevitalisasi pergerakan komik Indonesia. Nyaris tak ada isu baru
yang diangkat dalam pertemuan itu. Masalah seputar keberadaan database nasional,
information centre, dan pusat dokumentasi, masih menjadi isu sentral dalam pertemuan itu.

“Kita kecolongan lagi. Dalam Art Biennale mendatang, event itu akan mengangkat tema
pengaruh komik dalam senirupa. Belum lagi, di buku Komik Indonesia, banyak sekali yang
terlewatkan. Masak nama komikus sebesar Teguh Santosa bisa gak masuk dalam bahasannya?”,
ekspos Beng Rahadian. Beliau mengungkapkan fakta-fakta menarik sebagai lambaran perlunya
keberadaan sebuah pusat dokumentasi perkomikan Indonesia. Dalam kesempatan itu pula,
disosialisasikan keberadaan Rumah Komik di Jogja sebagai inisiatif aktifitas dokumentasi
perkomikan nasional. Keberadaannya setidaknya dimotori oleh Komikaze, dan galeri komik
Daging Tumbuh. Meski demikian, mereka menandaskan bahwa Rumah Komik bukanlah semata
milik para penggagasnya, dan akan senantiasa menjadi ajang terbuka.

Dalam ajang yang sama, MKI (Masyarakat Komik Indonesia) juga mengokohkan formatnya
sebagai jaringan fraktal terbuka setelah bertukar pendapat dengan peserta lainnya.
Dengan format baru itu, dimungkinkan keberadaan MKI-MKI di daerah-daerah yang jauh
dari jangkauan Jakarta.

“Kita ingin MKI bisa jadi milik kita bersama dan networknya bisa jalan. Gak perlu
ada pusat atau pinggiran, sehingga semua yang di sini bisa bilang: aku orang MKI”,
cetus Bang Firmansyah yang semenjak awal getol mensosialisasikan visinya.

Menurut Agung dari Komikaze Jogja, “yang penting bukan nama MKI-nya, tapi inisiatif
masing-masing elemen untuk menyumbangkan potensinya bagi perkembangan perkomikan”.

Pertemuan itu akhirnya juga menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain pembangunan
database komik berbasis web yang akan dimotori Komikaze99.com, Endonesa.net, dan MKI
Jakarta. Selain itu, masing-masing juga bertindak sebagai inisiatif pusat informasi
di daerahnya masing-masing.

Arus bawah
PKI-3 bolehjadi sudah berhasil menjadi ajang gathering dan eksposur karya komikus
nasional. Namun hal itu tentu tak bisa membuat suara-suara ketidakpuasan publik
atasnya dilalaikan begitu saja.

“Sayang sekali, Dik. Saya ini sebetulnya ke sini ingin cari komik anak, tapi nggak ada”,
keluh seorang ibu yang sudah dengan tekun berkeliling dari satu stand ke stand lainnya
bersama si buah hati. Karya-karya komik yang ada dari berbagai event komik nasional,
termasuk PKI-3, menunjukkan belum adanya diversifikasi segmen pasar komik dari sudut
usia. Dari segmen usia, semua karya komik memang masih ditujukan untuk kalangan muda.
Keberadaan komik anak-anak, yang notabene merupakan konsumen terbesar komik, masih
belum terpenuhi sebagaimana mestinya.

Selain itu, sebagai sebuah event berlabel Indonesia, hendaknya PKI-3 tak hanya melibatkan
studio-studio komik di Jawa saja. “Namanya gak sesuai dengan acaranya”, tanggap Sosiawan Hari.

Gelaran kali inipun boleh dibilang tak seramai gelar PKI-1 dari segi kemeriahan dan
volume pengunjung.

“Mungkin karena venuenya di kampus, yang dateng kurang banyak. Banyakan panitia dari
pesertanya”, saran Tika partisipan dari Jogja dengan sedikit berseloroh. Gadis berjilbab
ini mengatakan, bahwa ramainya acara PEKAN4 bolehjadi juga karena faktor lokasi.
PEKAN4 berlokasi di area Malioboro, belakang Benteng Vredenburg.

Rupanya, suara-suara keluhan itu beberapa sudah sampai juga ke telinga panitia.
“Banyak yang mengeluhkan tampilan visualnya yang kurang matang. Yang dibutuhkan
memang tampilan visual yang lebih menyatu sebagai sebuah acara pameran bersama”,
ungkap Sasa yang menjadi anggota steering comittee dalam acara itu.

Yang unik
Stand milik komunitas portal, menghadirkan nuansa lain dibanding stand-stand lainnya.
Jika stand studio komik lainnya memajang karya-karya komik dan berjualan komik beserta
merchandisenya, lain halnya dengan yang satu ini.

Portal menghadirkan “Comic In Box”, yang ternyata merupakan bentukan alternatif
menampilkan komik. Komik tak hanya bermediakan kertas, namun juga bisa dengan tata
lampu dan suara—seperti yang mereka sajikan. Tiap hari, tontonan yang hanya berkapasitas
1 orang tiap kali pemutaran itu hampir tak pernah sepi dari antrean pengunjung. Judul,
tata visual, dan konfigurasinya senantiasa memancing rasa penasaran. Tak heran kalau TPI
dan RCTI dalam liputannya juga melirik kreatifitas mereka itu.

Yang tak kalah unik, adalah kehadiran studio Rumpee dari Jakarta. Selain dekorasinya
yang minimalis, pemilik standnya juga tak pernah nampak di lokasi!![*]

words by Dhista, as requested by panitia PKI-3
diambil dari www.endonesa.net

Laporan Singkat yang Sangat Terlambat Kunjungan ke Tokyo International Animation Fair 2004

Kendati sangat terlambat, tapi tak urung saya memaksakan diri menuliskan
laporan singkat pandangan mata dan hati ke Tokyo International Anime Fair
2004 yang berlangsung 25-28 Maret 2004.

Pagi itu, tanggal 27 Maret 2004, saya dengan mas Triyadi Guntur staf
pengajar DKV-ITB dan uni Nedina Sari staf pengajar DP-ITB, menjejakkan kaki
di Tokyo Big Sight, tempat di mana Tokyo International Anime Fair 2004
diselenggarakan. Sebelumnya kami sempat 'angkaribung (bawa banyak gembolan)'
yang kemudian dititipkan di locker Washington Hotel Ariake karena kami
bergegas menuju lokasi segera setelah mendarat di bandara Narita, Tokyo.

Kami memang terpaksa memilih tiba di acara tersebut pada tanggal 27 Maret
karena berbagai hal, terutama persiapan berangkat yang serba mendadak dan
kurang terencana. Awalnya saya berpikir akan berangkat sendirian, namun mas
Guntur & uni Nedina dengan serta merta menyediakan diri untuk menemani
dengan catatan siap bermodal kocek sendiri dulu, karena dana hibah yang kami
terima dari The Sumitomo Foundation untuk mendukung keberangkatan kami ini
baru sebatas pemberitahuan tertulis dan belum diterima dananya. Alih-alih
bisa leluasa mengatur waktu kunjungan, terpaksa kami membuat jadual
kunjungan yang ketat saat kami ke Jepang kali ini, maksimal lima hari terus
pulang kampung.

Sebetulnya Kosei Ono-sensei, sahabat kita yang tampil jadi pembicara di
KOMIKASIA 2003 lalu mengundang kami hadir pada tanggal 26 Maret-nya, karena
pada saat tersebut beliau kebetulan sedang menjuri-i (maksudnya menjadi
juri) Tokyo International Anime Award Competition 2004. Tanggal 25 & 26
Maret 2004 memang dikhususkan sebagai business days yang tertutup untuk umum
kecuali bagi para pelaku bisnis animasi, pers, peserta dan juri kompetisi
yang diselenggarakan berkenaan dengan Tokyo International Anime Fair 2004.
Lebih dari 180 peserta pameran bergabung dalam acara besar ini, mulai dari
A.D. Vision, Inc., BANDAI, Studio Ghibli & Ghibli Museum, Mitaka, Japanime
Co., Ltd, NAMCO, Shogakukan, Toei Animation Co., Tokyo University of
Technology sampai dengan Yoyogi Institute of Animation. Dominasi peserta
memang berasal dari Jepang sendiri, dan sebagian kecil saja dari negeri
paman Sam, China, Taiwan dan Korea, saya kira, katanya sih ada lima belas
negara asing peserta. Indonesia diwakili kami sebagai pengunjung yang cuma
bisa menelan ludah...kabita!

Tokyo International Anime Fair 2004 terdiri dari 3 (tiga) kegiatan besar
yaitu Pameran, Kompetisi-kompetisi & event seperti simposium dan workshop.

Bertempat di Hall Pameran bagian Timur Tokyo Big Sight, acara utama pameran
Tokyo International Anime Fair 2004 berlangsung semarak. Pada 25-26 Maret
2004 berlangsung Press Conference dan Symposium. Di ruang Konferensi 609
berlangsung Workshop bertemakan : "Taiwan's Anime Business Aiming at Chinese
Market" - Present situation of Taiwan's animation industry and possibilities
of Japan-Taiwan-alliance-. Ada juga pojok Creator's World: berisikan 13
(tigabelas) kelompok kreator yang mempresentasikan keunggulan dan
kemutakhiran karya mereka, gagasan-gagasan dan strategi-strateginya dst.,
yang dipenuhi berbagai kemungkinan dan talenta. Ada Anime Rookies yang
menunjukkan peluang-peluang pertukaran yang dirancang untuk para kreator
yang mencoba meraih sukses dalam beragam bidang garapan industri animasi
seperti halnya sebagai character designer, planner, writer, music producer,
dst. Yang menjadi primadona panggung adalah Special Exhibition yang
mempertontonkan secara dinamis sejumlah animasi populer dari masa ke masa
dan dari generasi ke generasi di samping diselenggarakannya Anime Theater
pada 27 & 28 Maret di Reception Hall A & B.

Menurut Kosei Ono-sensei, sejumlah animasi yang dinominasikan memang banyak
yang baik dari segi teknik, cerita, tatavisual dan tataaudionya sekalian.
Misalnya versi baru Mobile Suit Gundam Seed karya produser Fumikumi Furusawa
sebagai Animation of the Year 2004, robot anime yang dikembangkan mutakhir
yang menandai usia 25 tahun sejak The First Gundam di-release.Sutradara
Tae-Ho Han dari Korea membukukan prestasi memperoleh Grand Prize lewat
animasi Africa a.F.r.I.c.A. Lahir 14 Mei 1965 Tae Ho Han telah menjalani
karirnya di bidang animasi sejak menjadi animator lokal di Seoul hingga di
Universal Studios dan Warner Bross USA. Astro Boy tokoh kojo-nya Osamu
Tezuka yang legendaris juga masuk nomination entries untuk kategori animasi
televisi bersama dengan Mobile Suit Gundam Seed dan Fullmetal Alchemist.
Yang juga menurut Ono-sensei berbakat adalah Shoji Kawamori dengan karyanya
Macross Zero nomination entries untuk kategori video orisinal bersama
Animatrix.

Informasi teranyar dari Ono-sensei yang langsung disambut mas Guntur adalah
keistimewaan film animasi Kirikou asal Prancis. Mas Guntur dengan sigap
memburu DVD film teranyar itu dan membawanya pulang mudik ke Kudus...eh
Bandung. Yang berminat menonton (atau membajak?)silahkan kontak mas Guntur
di DKV-ITB, dengan catatan kalau ybs. tidak keberatan dipinjami DVD-nya.

Pada tanggal 28 Maret hari terakhir event tersebut kami berbincang lama
seputar perkembangn komik dan animasi di Asia Tenggara dengan Ono-sensei
ditemani Ms. Reiko Yoshida, dari penerbit Ushio Shuppansha Co. Ltd. (mungkin
kedudukannya seperti mbak Retno Kristy dari Elex Media itu lho, ya). Yang
mengesankan adalah seusai menjamu kami makan ala Jepang kami didaulat untuk
menyaksikan keindahan bunga Sakura yang sedang mekar pada saat itu. Kami
beruntung karena konon Sakura hanya mekar tidak lebih dari sepekan, dan
mulai mekarnya justru ketika kami berada di Jepang saat ini. Pintar juga
penyelenggara Tokyo International Anime Fair 2004 itu, selain juga masa itu
bertepatan liburan musim semi anak-anak sekolah dasar dan menengah.
Lengkaplah kemungkinan potential audience akan berkunjung ke Tokyo
International Anime Fair 2004 karena daya tarik dan tempo yang pas.

Info baru yang kami peroleh dari kunjungan itu adalah akan
diselenggarakannya 8th Seoul International Cartoon & Animation Festival.
Kebetulan kami dibagi-bagi gratis DVD promo-nya.
Ciamik...

Jika ada kesempatan lebih untuk berbagi cerita, saya sambung lagi deh.
Mudah-mudahan nggak pada bosan.[*]
Tendy Y. Ramadin
dari milis pengajian_komik_dkv@yahoogroups.com